Oleh: athlasgeodesi | 18 September 2012

Galau dan Manajemennya

Pernahkah anda merasa galau ?

galau

        Galau adalah suatu perasaan ketika kita berada dalam kondisi kebimbangan dalam menentukan sesuatu pilihan. Saat itu lah kita dihadapkan pada situasi yang serba susah dan penuh pertimbangan kebimbangan. Sehingga kedewasaan kita diuji saat galau menghinggapi. Akan tetapi bukan mengenai pilihan mana yang hendak kita pilih, tetapi lebih kepada bagaimana cara kita menghadapi resiko yang diperoleh akibat memilih salah satu pilihan yang menggalaukan tersebut.

       Dewasa ini banyak akhi atau ukhti galau hanya karena hal kecil dan tidaklah penting seperti menggalau karena si dia ga’ sms, besok mau jalan – jalan kemana atau karena seharian ga’ ada yang sms !! Hanya karena hal – hal sepele tersebut seolah dapat mengganggu keseimbangan jiwa dan perasaan. Tanpa antum sadari, sifat lembek seperti itu hanya akan melemahkan jiwa dan menghambat proses kedewasaan kita.

       Jadi apakah kita harus membuang jauh – jauh kata galau dari kamus bahasa kita? Jawabannya tentu saja tidak, berarti apakah kita butuh galau? Tentu saja jawabannya iya. Tapi, bukan galau seperti yang disebutkan sebelumnya yang kita butuhkan, melainkan galau lah untuk memikirkan amalan apa yang telah kita lakukan didunia ini, apakah sudah cukup atau masih banyak maksiat yang kita kerjakan, bagaimana kalau besok kita mati? Apakah siap menghadapNya?

     Patut kita was – was dan galau dalam hal yang satu ini, karena dewasa ini seolah kita terperdaya akan keindahan dunia yang menyilaukan. Seolah waktu ini hanya disibukkan dengan urusan – urusan dunia seperti kita hanya hidup didunia saja. Ingatlah bahwa kita hidup ini hanya sebentar saja, kalau orang jawa bilang “urip amung mampir ngombe” (hidup cuma mampir minta minum).

      Di akhiratlah kita akan hidup abadi, tetapi disini (dunia) lah kita menentukan seperti apa wujud dan keadaan kita nanti di akhirat. Tampan atau buruk rupa, lapar atau kenyang maupun kaya ataupun miskin hanya kita sendiri yang dapat menentukannya. Maka pergunakanlah akal dan pikiran kita untuk sibuk memikirkannya. Perbanyaklah kebaikan mulai dari sekarang dan cobalah untuk kurangi maksiat yang biasa kita lakukan. Kalau tidak sekarang kapan lagi? Karena ngga’ ada jaminan besok kita masih hidup.

  Jadi, menggalaulah tentang berapakah banyak amalan yang telah kita persiapkan untuk akhirat kelak. Karena itu lebih bermanfaat daripada menggalau tentang hal – hal sepele yang malah menjerumuskan kita kepada maksiat. Naudzubillah.

Wallahu a’lam

-Rohis Athlas Teknik Geodesi UNDIP-


Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori